Sebuah Pembacaan Singkat Seribu Bangau (Yasunari Kawabata): Bayangan Kematian Upacara Minum Teh

Note: Ini hanya pembacaan singkat. Tidak lengkap dan hanya sekilas, namun bisa menjadi sebuah dasar pemikiran.

Judul: Seribu Bangau
Penulis: Yasunari Kawabata
Penerjemah: Endah Raharjo
Diterbitkan pertama versi ini: Januari 2015
Penerbit: Gading Publishing
Judul asli: 千羽鶴 [Sembazuru] (Diterbitkan pertama 1952)

Tema buku ini ada tiga: 1) upacara minum teh, 2) cinta, 3) kematian. Ketiganya tidak dapat dilepaskan dan ketiganya menjadi sebuah rantai yang menciptakan suasana kotor, pada novel yang terkesan mewarkan keindahan upacara minum teh. Inilah, ironinya. Sebuah ironi yang sangat halus, terbungkus dalam sebuah keindahan upacara minum teh.

Pembukaan novel diawali dengan peristiwa yang terjadi di upacara minum teh, di kuil bernama Engkakuji (Kamakura). Di sinilah, di sebuah suasana upacara yang harusnya membawa ketenangan jiwa, dan keindahan akan alam, terjadi sebuah pertemuan yang menjadi permasalahan cerita. Jika secara cermat mengamati, akan muncul sebuah pertanyaan besar saat membaca bagian pertama novel ini.

Mengapa sumber dari masalah ini bermula pada sebuah pertemuan di upacara minum teh?

Didasari tulisan yang dibaca dari  naskah pidato penerimaan hadiah nobel Yasunari Kawabata, yang berjudul “Japan, The beauty, and Myself”, dinyatakan bahwa:

“Sambil lalu, bisa saya katakan bahwa jika novel saya Seribu Bangau ditinjau sebagai suatu pengenangan akan keindahan formal dan spiritual upacara minum teh, berarti itu suatu pembacaan yang keliru. Novel ini adalah karya negatif, dan ia adalah ekspresi kerauan tentang dan peringatan terhadap kenyataan memudarnya penjiawaan upacara minum teh.”(1)

Sekiranya benar adanya. Membaca buku ini, tidaklah dikenalkan akan keindahan sebuah upacara minum teh. Sebaliknya, pada upacara inilah, kita dikenalkan pada kepicikan Kurimoto Chikako, hasrat seksual dari Kikuji, dan egoisme dari keluarga Ota (aku membaca keluarga Ota sebagai sosok yang egois dalam novel ini).

Upacara minum teh tidak berhasil memberikan ketenangan jiwa, membersihkan jiwa, dan keseharusan yang diharapkan dari upacara minum teh. Semua diputar balikkan (yang tentunya kurasa sudah banyak pembaca/analisis yang membahas mengenai ini).

Terlepas dari bagaimana, yang pada kenyataannya, upacara minum teh tidak menjalankan fungsinya sebagaimana seharusnya, akar dari permasalahan justru dikarenakan oleh sebuah kematian. Kematian dari ayah Kikuji, yang merupakan ahli “upacara minum teh” dengan kisah cinta dari istri tidak resmi ayahnya. Kematian ayah Kikuji yang meninggalkan dua orang istri tidak resmi itu, membawa ke dalam sebuah permasalahan percintaan Kikuji.

Kikuji dihadapan dengan Chikako, selingkuhan ayahnya, yang diceritakan suka seenaknya dan tidak peka. Dengan menjadi rasa hutang untuk merawat Kikuji yang sudah ditinggal mati kedua orang tuanya sebagai alasannya, Chikako menunjukkan sebuah keperdulian, yang sangat mengganggu bagi Kikuji. Dia seenak sendiri membersihkan rumah Kikuji, masuk dan keluar rumah tanpa izin, dan membuat sebuah acara perjodohan bahkan pernikahan bagi Kikuji. Menjadikan kematian ayah Kikuji menjadi sebuah alasan untuk merasa berhutang budi dan bersikap seenaknya. Apakah itu sebuah perbuatan yang hanya bisa dilakukan setelah kematian ayah dan ibunya terjadi?  Bukan hanya terhadap Kikuji, setelah kematian Ibu Ota-ibu dari Fumiko- Chikako juga lantas berbuat seenaknya, mempermalukan Fumiko dihadapan Kikuji. Chikako di sini, menerima sebuah kematian yang terjadi dengan sebaik-baiknya. Dengan mengetahui bahwa yang mati akan masih menyisakan sebuah efek kepada yang hidup, dia memanfaatkan segala hal yang bisa didapatkannya dari sebuah kematian.

Bagi Kikuji sendiri, kematian dari ibunya tidak diceritakan menjadi sebuah persolan yang pelik. Namun tidak demikian dengan kematian ayahnya. Kematian Ayahnya yang membuat dia terus menerus harus berurusan dengan Chikako. Kematian dari ayahnya yang juga membuat rumit hubungan percintaanya dengan Ibu Ota (yang juga Istri tidak sah) ayahnya. Hal ini karena bayangan ayahnya terus muncul saat bercinta dengan Ibu Ota. Selain itu, rasa bersalah terhadap ayah Kikuji yang ditinggalkan setelah kematiannya, membuat kondsi emosinal Ibu Ota tidak stabil. Dia dengan egoisnya mengabaikan rasa cinta yang ada pada Kikuji, dan terus memaksa agar Kikuji mau memaafkan dirinya, yang menurutnya hina. Pada pihak Kikuji pemikiran yang berbeda muncul, di mana dia merasa bahwa justru ayahnya yang harus dimaafkan karena membuat keluraga Ota menderita. Sikap egois Ibu Ota juga ditunjukkan dari pilihannya untuk bunuh diri dengan meminum banyak obak jantung. Yang mana kematiannya ini, membuat anaknya, Fumiko, dan Kikuji sendiri semakin dalam kekacauan.

Kekacauan pertama muncul dalam diri Kikuji, yang menemukan bahwa sosok Ota (ibu) yang dicintainya, muncul dalam diri Fumiko. Rasa sayang pun muncul terhadap gadis itu. Dia bebarapa kali tersadar bahwa dirinya tertarik pada tubuh Fumiko yang semakin lama, dirasa semakin mirip dengan ibunya. Di sini, kematian membawa efek yang sama antara Ibu Ota dan Kikuji. Sosok orang yang sudah mati, terus mebayang pada yang masih hidup yang muncul karena rasa cinta. Berbeda dengan Ibu Ota, yang berusaha menyangkal rasa cinta terhadap Kikuji yang dibayangin sosok ayah Kikuji yang sudah meninggal, Kikuji menerima rasa cinta terhadapa Fumiko, dengan terus mengenang kehangatan dan keindahan tubuh Ibu Ota pada diri Fumiko. Faktor inilah yang menyebabkan berbedaan pilihan pada Ibu Ota dan Kikuji. Ibu Ota memilih bunuh diri, Kikuji memilih untuk melanjutkan hidupnya. Rasa berterima Kikuji ini juga yang menyebabkan dia terus menerus menolak anjuran pernikahan yang direncanakan Chikako.

Sedangkan bagi Fumiko, kematian Ibunya tidaklah membahwa sebuah dampak yang baik. Meskipun nampak bahwa dia juga menerima Kikuji, namun rasa bersalah pada ibunya, membuat dalam kebingungan. Ketidak stabilan emosi, membawanya bersikap egois terhadap Kikuji, seperi memecahkan mangkuk Shino yang tidak ingin Kikuji pecahkan. Pindah rumah tanpa memberi tahu Kikui, terus menerus memaksa Kikuji untuk memaafkan ibunya. Kesemua hal itu, semuanya adalah dampak dari kematian ibunya. Sama dengan sikap ibunya yang berusaha melawan bayangan kematian Ibunya, Fumiko yang pada akhir cerita tidak secara gamblang dikisahan, diberikan narasi yang menuntun pada sebuah kesimpulan untuk bunuh diri.

Dia tidak punya alasan untuk mati,” gumam Kikuji.(2)

Fumiko tidak punya alasan untuk mati, Fumiko yang membuatnya merasa hidup kembali.

Namun, apakah kejujuran pada malam sebelumnya itu adalah kejujuran akan kematian?

Apakah Fumiko, seperti ibunya, terdorong rasa bersalah, takut pada kejujuran?

Narasi di atas, bisa menjadi sebuah pembacaan Fumiko, memilih jalan yang sama dengan ibunya, yaitu bunuh diri.

Kesimpulan:

Kematian menjadi salah satu tema besar dalam novel ini. Pembacaan terhadap bagaimana para tokoh menghadapi bayangan dari orang yang telah mati membawa pada sebuah kesimpulan bahwa yang berusaha melawan bayangan itu akan terbawa pada sebuah sebuah akhir yang sama, yaitu kematian. Dan yang berusaha menerimanya, akan tetap berusaha mencari sebuah keindahan.

 

Sebuah pembacaan singkat dari: Nadia Wirda Ummah

  • Universitas Gadjah Mada
  • Ferris Jougakuin University

Referensi Kutipan:

(1) Kawabata Yasunari, Nurul Hanafi (Penerjemah).Daun-daun Bambu.2015. Ea Books.Yogyakarta.(hal. 6)

(2) Kawabata Yasunari, Endah Raharjo (Penerjemah).Seribu Bangau.2015.Penerbit Gading. Yogyakarta. (hal. 143)

Hachinan-tte Bab 22

TEMAN-TEMAN PERTAMA, SEBUAH TANDA?

Biar kujelaskan rangkaian kejadiannya secara singkat.

Aku tadinya adalah seorang karyawan di perusahaan dagang kelas dua di Jepang dan, untuk alasan yang tidak diketahui, aku menjadi putera kedelapan bangsawan miskin di daerah barat dunia lain.

Aku memiliki bakat dalam sihir jadi aku melatihnya. Aku bekerja keras mempelajarinya sambil menghindari perhatian orang lain, dan aku pergi berburu untuk memperbaiki kebiasaan makanku. Continue reading

Hachinan-tte Bab 21

SEKOLAH PERSIAPAN PETUALANG

“Upacara masuk sekolah persiapan petualang akan dimulai sekarang.”

Ini setahun setelah kepala desa Klaus, ayah dari gundik Ayahku dan orang yang mau aku supaya menjadi kepala keluarga Baumeister berikutnya, membuat permintaan yang konyol.

Akhirnya berusia dua belas tahun, aku meninggalkan rumah orang tuaku untuk mendaftar ke sekolah persiapan petualang di Breitburg. Continue reading

Hachinan-tte Interlude 3

AKU TIDAK MEMERLUKAN WILAYAH SEMISKIN INI!

“Ini gawat!”

Aku berencana untuk meninggalkan rumah dalam beberapa tahun lagi, tapi kepala desa di wilayah ini tiba-tiba mau supaya aku mewarisi wilayah ini.

Akhirnya, aku harus menyatakan kalau aku tidak berniat untuk bekerja sama.

Ini bukan waktunya untuk bercanda.

Ini juga bisa mengarah konsekuensi terburuk yaitu saling membunuh satu sama lain antar saudara. Continue reading

Hachinan-tte Bab 19

SEORANG PENYENDIRI JUGA TERLIHAT MENCOLOK DI KERAMAIAN

“Hei, kau bocah yang biasanya. Apa kau datang untuk menjual tangkapan juga hari ini?”

“Ya.”

“Kau rajin sekali mendapatkan uang.”

Selama tiga tahun terakhir ini, aku sering mengunjungi kota pedagang Breitburg di wilayah kekuasaan Margrave Breithilde.

Aku akhirnya berumur sebelas tahun, tapi tidak ada hal besar yang terjadi selama tiga tahun ini. Continue reading